Tanpa Batas Waktu

Sampai kapan diri ini bertahan dengan pemikiran yang sekarang

Aku merasa ada sedikit celah yang tercerahakan pada hatiku

Seperti sebuah penerimaan

Atau logikaku sedang waras

Kemarin...

Apa mungkin itu karena aku yang terlalu mudah membuka hati

Terlalu mudah mengizinkan orang-orang masuk dalam pikiran. mengobrak-abrik perasaan

Tak sekali

Namun berkali-kali

Jika nalarku bicara, pasti habis aku diejeknya

Tak lelahkah kau dengan luka?

Seakan kau tak pernah mengerti konsep mencintai diri

Kenapa baru tersadar saat orang lain harus mencampuri urusanmu

"Apa yang menyebabkan kamu seperti ini padanya hingga sebegitu dalamnya? Apa dia pernah menyatakan perasaanya kepadamu? Apa kalian sedang menjalin hubungan?"

Tidak. 

Bahkan kau tidak tahu siapa dia bagimu. 

Begitupun sebaliknya.

 

Kepada hati

Ada baiknya kau beristirahat

Jika memang kenangan dan kecewa tentangnya adalah yang kini sekarang menjadi paling menyakitkan, 

Ada rindu yang harus kau tepiskan, pada mimpi yang harus kau kandaskan,

Ingatlah, luka itu sakit.

Aku ingin kau selalu mengingat kecewamu

Hingga kau bisa lebih pintar memilih dan menjatuhkan hati pada orang yang tepat

 

Bukan hanya seberkesan apa dia pada pertemuan pertama

Tapi seberapa waras logika menafsirkan fakta

Laiknya dirimu yang juga lelah, biarkan hati pun istirahat

Tak usah berpikir sampai kapan

Justru terlihat kau tak ikhlas

Biarkan saja begitu

Tanpa batas waktu

 

-DF-


Komentar