Postingan

Pelangi Pemilik Rindu

Gambar
Rasanya aku baru saja kedatangan pelangi.  Mendung kelabu di hatiku tiba-tiba mendadak punya warna-warni yang lain. Aku masih tak percaya, kata itu terucap langsung dari bibirnya. “Kangen, Dzila aku kangen” Mimpi apa aku barusan? Bahkan saat itu aku masih hendak tidur.   Selama ini, aku berpikir bahwa hanya aku yang merasa rindu yang sangat dalam, rindu yang selalu menjadi musuh pada tiap-tiap malamku. Setiap langit sore berubah menjadi malam gelap, angan tentangnya selalu menggelayut di pikiran, membuat dadaku sesak, dan seringnya air mata ku jatuh tanpa bisa tertahankan. Aku sangat membenci rasa rindu. Rindu itu menyesakkan, hanya membawa kesedihan, membuatku terlihat lemah. Ya, benar begitu. Karena ku hanya merasakannya sendirian, menyembunyikan dari pemilik rindu, menahan jemari untuk tidak bertingkah bodoh dengan memposting apapun yang kiranya mewakili perasaanku hanya untuk di  notice  olehnya, karena aku tau akhirnya akan berakhir sesal atau k...

Sebelum Seperempat Abad

Agustus, 2021 Ntah apa yang salah denganku. Kenapa aku terlambat menyadari semuanya. Kata penyair di buku Laut Bercerita saat usia 25 kau sudah membuat jejak. Jejak apa? Jejak penyesalan? Menyesal karena tidak memaksimalkan peran sebagai “mahasiswa” sejak aku memilih menjadi anak kuliahan ditahun 2014, menyesal karena mengikuti organisasi tapi tak tau apa entintasnya bagi diri sendiri, menyesal karena naik gunung hanya untuk sekedar keren yang nyata-nyatanya tetap tidak bisa menjadi mandiri atau setidaknya bisa memasang tenda dan memasak sendiri. Menyesal, karena haluan ku yang tak jelas.   Menghitung hari sebelum aku resmi menyandang usia seperempat abad, aku menyadari betapa sekarang harusnya sangat menghargai waktu dan usiaku. Aku tak lagi mahasiswa, tapi aku masih ingin memiliki peran mereka. Ilmu Biologi yang semakin hari semakin kutinggalkan, membuat diri ini semakin merasa tak berguna, terkadang aku rindu membahas lebih dalam tentang ilmu-ilmu Biologi yang pernah k...

Tanpa Batas Waktu

Sampai kapan diri ini bertahan dengan pemikiran yang sekarang Aku merasa ada sedikit celah yang tercerahakan pada hatiku Seperti sebuah penerimaan Atau logikaku sedang waras Kemarin... Apa mungkin itu karena aku yang terlalu mudah membuka hati Terlalu mudah mengizinkan orang-orang masuk dalam pikiran. mengobrak-abrik perasaan Tak sekali Namun berkali-kali Jika nalarku bicara, pasti habis aku diejeknya Tak lelahkah kau dengan luka? Seakan kau tak pernah mengerti konsep mencintai diri Kenapa baru tersadar saat orang lain harus mencampuri urusanmu "Apa yang menyebabkan kamu seperti ini padanya hingga sebegitu dalamnya? Apa dia pernah menyatakan perasaanya kepadamu? Apa kalian sedang menjalin hubungan?" Tidak.  Bahkan kau tidak tahu siapa dia bagimu.  Begitupun sebaliknya.   Kepada hati Ada baiknya kau beristirahat Jika memang kenangan dan kecewa tentangnya adalah yang kini sekarang menjadi paling menyakitkan,  Ada rindu yang harus ...