Sebelum Seperempat Abad
Agustus, 2021
Ntah apa yang salah denganku. Kenapa
aku terlambat menyadari semuanya. Kata penyair di buku Laut Bercerita saat usia 25 kau sudah membuat jejak.
Jejak apa? Jejak penyesalan?
Menyesal karena tidak memaksimalkan peran
sebagai “mahasiswa” sejak aku memilih menjadi anak kuliahan ditahun 2014,
menyesal karena mengikuti organisasi tapi tak tau apa entintasnya bagi diri
sendiri, menyesal karena naik gunung hanya untuk sekedar keren yang
nyata-nyatanya tetap tidak bisa menjadi mandiri atau setidaknya bisa memasang
tenda dan memasak sendiri. Menyesal, karena haluan ku yang tak jelas.
Menghitung hari sebelum aku resmi
menyandang usia seperempat abad, aku menyadari betapa sekarang harusnya sangat
menghargai waktu dan usiaku. Aku tak lagi mahasiswa, tapi aku masih ingin
memiliki peran mereka. Ilmu Biologi yang semakin hari semakin kutinggalkan,
membuat diri ini semakin merasa tak berguna, terkadang aku rindu membahas lebih
dalam tentang ilmu-ilmu Biologi yang pernah kupelajari. Kini mungkin aku hanya tau
kulit-kulitnya saja. Peranku sebagai guru SD yang semakin hari membuatku
bimbang, haruskah aku meresmikan profesiku sebagai “guru SD”, atau aku kembali pada
apa yang sudah ku pelajari di bangku kuliah dulu, tapi… pindah sekolah? Duh lapangan
pekerjaan semakin sulit, kawan. Atau aku harus membuka otak yang bebal ini
untuk mendaftar PNS?
Lalu kontribusiku pada negara? Ah,
semakin mengarang-ngarang saja pikiranku ini.
Duduk berlama-lama dan berdiskusi
saja, aku tak betah (waktu itu), apa lagi membaca atau mendengarkan berita. Sekarang
aku ingin sekali mengulangi momen itu. Momen dimana harusnya aku sadar peranku
sebagai manusia dan warga negara, dengan menjadi kritis misalnya.
Atau scope yang lebih kecil, tentang peran
di keluargaku.
Hubunganku yang tetap saja dingin
dengan ayah, yang sangat minim bicara karena seringnya berujung pernyataan negatif
dari mulutnya atau aku yang meninggikan suaraku, tetap sama saja dari tahun ke
tahun. Aku kehilangan sosok yang mengayomi dan harusnya berwibawa.
Ibuku… satu-satunya orang yang paling kusayangi. Tapi sampai sekarang aku masih membiarkan dia senidirian dalam lelah. Yang kini juga ikut membanting tulang demi ekonomi keluarga. Masakan-masakan ibu yang selalu menjadi juara (tak hanya di lidahku, tapi juga semua orang) aku berani bertaruh ibuku sangat enak masakannya. Apa tumbuh menjadi perempuan idaman yang pintar masak? Tidak juga.
Aku tumbuh menjadi anak yang manja,
anak yang berada dilingkaran nyaman. Ohya serta sering berlinang air mata untuk
hal-hal yang tak penting.
Lalu tentang percintaan… ah aku sedang tak ingin
menyentuh itu di tulisan ini.
Refleksi diri sebelum seperempat abad
Komentar
Posting Komentar