Pelangi Pemilik Rindu
Rasanya aku baru saja kedatangan pelangi.
Mendung kelabu di hatiku tiba-tiba mendadak
punya warna-warni yang lain.
Aku masih tak percaya, kata itu terucap langsung
dari bibirnya.
“Kangen, Dzila aku kangen”
Mimpi apa aku barusan?
Bahkan saat itu aku masih hendak tidur.
Selama ini, aku berpikir
bahwa hanya aku yang merasa rindu yang sangat dalam, rindu yang selalu menjadi
musuh pada tiap-tiap malamku. Setiap langit sore berubah menjadi malam gelap,
angan tentangnya selalu menggelayut di pikiran, membuat dadaku sesak, dan
seringnya air mata ku jatuh tanpa bisa tertahankan.
Aku sangat membenci rasa
rindu. Rindu itu menyesakkan, hanya membawa kesedihan, membuatku terlihat
lemah. Ya, benar begitu. Karena ku hanya merasakannya sendirian, menyembunyikan
dari pemilik rindu, menahan jemari untuk tidak bertingkah bodoh dengan
memposting apapun yang kiranya mewakili perasaanku hanya untuk di notice olehnya,
karena aku tau akhirnya akan berakhir sesal atau kesal.
Ego. Ya, barangkali dia
yang paling bertanggung jawab untuk semua tindakan yang kulakukan. Egoku masih
sangat besar untuk memulai dahulu. Ego yang membuatku berpikir panjang untuk
sekedar menyapanya, apalagi untuk menemuinya di Jakarta. Yang benar saja,
haruskah aku yang pergi. Hanya karena satu ucapan “aku tunggu kamu”, lantas aku
harus luluh?
Bagaimana
jika hanya aku yang berjuang, karena sepertinya cuma aku yang menanggung rindu.
Bagaimana jika kau sibuk disana dan tak bisa menemuiku.
Jujur saja, yang paling berat selain menanggung rindu adalah
menahan diri.
Menahan diri agar tak membuatmu bosan denganku. Waktu dan jarak, dua hal yang tadinya sangat kubenci. Aku benci menunggu dan ketidakpastian, aku benci jarak yang membuat logikaku mati dan tak ada kebaikan sedikitpun karenanya. Waktu dan jarak hanya dalang dari rindu, mereka dalang dari pertengkaran, mereka dalang dari curiga, mereka juga sering menjadi dalang dari kesalahpahaman dan perpisahan.
Kamu tau,
Terkadang anganku semakin liar saja, memikirkan bagaimana nanti reaksiku bertemu denganmu. Atau lebih tepatnya, bagaimana kamu akan menyambutku. Aku, pasti akan memelukmu erat, dan menangis dibahumu. Menumpahkan rindu yang terlalu penuh.
Di salah satu malam September…
Setelah sekian lama kita tak benar-benar bicara, untuk pertama
kalinya aku melihatmu lagi meski hanya melalui video call, dengan malu-malu aku
menyapamu, menampilkan diriku yang tak pernah kau lihat sebelumnya. Tapi kau
dengan hangat menyapaku, sekali terlihat kau seperti gemas denganku. Beberapa
kali kita hanya terdiam dan lagi-lagi aku tak terbiasa dengan tatapan itu.
Untung aku bukan tipe pemilik pipi merah, sehingga rona malu itu tidak terlalu
kelihatan.
Kamu bilang “Kenapa harus malu, kaya bicara sama siapa aja?”
Jelas saja aku salah tingkah, seseorang yang paling ku rindukan
kini sedang melihatku. Tak terasa kita terus bicara hingga kita terlelap. Dalam
diam sesaat, kau menatapku dan menyatakan hal itu “Kangen”. Tak percaya dengan
apa yang kudengar, aku langsung berganti posisi menjadi duduk. Rasanya aku
ingin melompat senang tak karuan.
Jadi, pemilik rindu ini tidak hanya aku?
Malam itu,
Setelah kau hadirkan pelangi pada langit mendung yang terus basah
oleh hujan air mata karena rindu, kau juga menjanjikan mentari yang begitu
hangat untuk esok hariku.
Benar saja, pagi ini mentari sedang hangat-hangatnya menemaniku.
Akan ada banyak energi baru yang akan kuterjemahkan menjadi senyum dan
semangat. Akan ada pemahaman baru yang akan kutanamkan pada diriku.
Mungkin kini aku tak terlalu membenci jarak dan waktu.
Karena nyatanya,
Untuk ku bisa menuliskan ini dan mendapatkan pelangi, aku membutuhkan mereka
Yang saat ini menjadi alasan dari ucapan terimakasihku

Komentar
Posting Komentar